Latest Post

SD, SMP, & SMA YPSA Ditetapkan Sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi 2016

Written By yuslihanf on Selasa, 29 November 2016 | 21.15.00

SD, SMP dan SMA Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA) ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi 2016 oleh Badan Lingkungan Hidup Propinsi SUMUT di Hotel Garuda Plaza Medan, Selasa (29/11/16).

Hal ini sesuai dengan surat SK yang diterima pihak sekolah pada saat Gebyar Hari Lingkungan Hidup 2016 Provinsi SUmatera Utara yang diserahkan langsung oleh kepala Badan lingkungan Hidup Provsu ibu Dr. Ir. Hj. Hidayati, M.Si.

Bu Hidayati dalam sambutannya mengUcapkan terima kasih kepada pihak sekolah dan juga instansi lainnya yang telah berpartisipasi dan dedikasinya terhadap pelestarian lingkungan disekolahnya.

Kepala SD Shafiyyatul Amaliyyah menuturkan, “SD, SMP, dan SMA YPSA merupakan salah satu dari 152 sekolah di Sumatera Utara yang menerima SK tersebut”.

Kepala SMP Shafiyyatul Amaliyyah Irsal Efendi mengungkapkan rasa syukurnya, “Syukur kepada Allah SWT atas raihan ini. Penetapan ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada guru dan seluruh siswa YPSA untuk lebih meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekolah maupun di rumahnya”.

“Semoga ini langkah bagus dan baik bagi YPSA untuk meraih tingkat Nasional kedepannya, amin” akhiri Irsal.

Senada dengan keduanya Kepala SMA YPSA Rudi Sumarto mengatakan bahwa peraihan prestasi ini tak lepas dari motivasi dan dukungan dari Pembina YPSA Drs. H. Sofyan Raz, Ak.M.M., dan Ketua Umum YPSA Hj. Rahmawati.

Sebelumnya, SMP Shafiyyatul Amaliyyah meraih juara I sebagai sekolah Adiwiyata Tahun 2016 dari Badan Lingkungan Hidup Kota Medan yang diserahkan langsung oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Bapak Ir. ARIEF S TRINUGROHO di Lapangan Upacara SMP N 11 Medan, Selasa (31/5/16).

Sedangkan SMA YPSA meraih juara harapan I sebagai sekolah Adiwiyata dan SD YPSA meraih sertifikat sekolah Adiwiyata.


sumber: deras.co.id

Gerakan "Sabtu Bersih"

Written By yuslihanf on Senin, 28 November 2016 | 20.11.00

Sekolah Dasar Shafiyyatul Amaliyyah melaksanakan kegiatan "Sabtu Bersih" di seluruh area lingkungan Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah. (Sabtu, 26/11/2016).

Kepala Sekolah, Bapak Azhar Fauzi, M.Pd.I mengatakan program ini merupakan salah satu bentuk kegiatan untuk mendukung pelaksanaan adiwiyata dan juga untuk membiasakan siswa agar senantiasa menjaga lingkungan dan lebih peduli terhadap kebersihan, terutama di lingkungan sekolah.

"Kegiatan Sabtu Bersih ini kedepannya akan kita teruskan dan dijadwalkan untuk membiasakan siswa/i membersihkan lingkungan sekola dan merasakan langsung manfaat dari kebersihan itu sendiri", tambahnya. 

Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa/i dan guru serta karyawan Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah.

Disamping kegiatan membersihkan,  beberapa siswa juga merawat bunga dan tanaman yang ada di lingkungan YPSA dengan menyiram dan menyiangi rumput-rumput yang ada di sekitar tanaman. 

Berikut ini liputan pelaksanaan Sabtu Bersih di YPSA. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat serta menjadi contoh bagi sekolah lainnya. 


YPSA Peringati Hari Guru Nasional 2016

Written By yuslihanf on Jumat, 25 November 2016 | 19.46.00

Sekretaris Umum YPSA Hj. Rizki Fadilah Raz, M.Psi.Psikolog., menjadi pembina upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2016 di lapangan hijau YPSA, Jum’at (25/11/16).

Dalam kesempatan ini pembina upacara membacakan langsung pidato dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP. Selanjutnya Hj. Rizky memberikan apresiasinya kepada guru-guru YPSA yang telah mengabdi di YPSA. Tak lupa Hj. Rizki mengucapkan terima kasih kepada guru-guru SD, SMP, SMA, sampai dengan dosen-dosennya yang telah mendidiknya menjadi seperti sekarang ini.

Usai upacara siswa-siswi SMA YPSA memberikan penampilan ucapan terimakasih kepada guru-guru YPSA dengan merentangkan spanduk dan melepas balon sambil salah satu siswi membacakan puisi diiringi biola.

Selanjutnya siswa-siswi PGTK, SD, SMP, SMA YPSA salam dan ucapkan selamat Hari Guru Nasional kepada Pembina YPSA Drs. H. Sofyan Raz, Ak.M.M., pengurus lainnya dan guru-guru YPSA sembari memberikan sekuntum bunga.

Pada hari yang berbahagia ini, Ketua Umum YPSA Hj. Rahmawati Sofyan Raz juga memberikan sekuntum bunga kepada semua guru dan karyawan YPSA.

Dalam pesannya Ketua Umum YPSA menyampaikan, “Bapak dan Ibu guru yang saya cintai, dalam rangka hari pendidikan ini marilah kita bersama kembali mengintropeksi dan mengevaluasi diri untuk tetap berpegang terhadap motivasi Rasullullah SAW. Bahwa hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Meskipun kita sebagai guru atau pendidik tetaplah kita selalu belajar terus menuntut ilmu menambah wawasan”.

“kita adalah guru teladan untuk mengantarkan cita-cita sesuai visi-misi YPSA ‘We shall Create Golden Generation ,Disciplined, relegious, Smart’ yang kita pertanggung jawabkan kepada Allah swt, untuk mencapai kehidupan dunia akhirat”. Akhiri usai makan siang bersama para guru di Raz Garden YPSA.

sumber: ypsaonline

MAHKAMAH AGUNG : GURU TAK BISA DIPIDANA KARENA MENDISIPLINKAN SISWA

Written By yuslihanf on Rabu, 16 November 2016 | 17.43.00

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Pagi

sinarberita.com - Kasus pemukulan yang menimpa rekan guru kita begitu menyita perhatian publik, hingga detik ini kasus ini masih menjadi topik yang paling banyak dipublikasikan di media-media pemberitaan online.

Dunia pendidikan kembali gempar saat seorang guru di Makassar dipukuli oleh orang tua siswa. Sang orang tua memukuli karena tidak terima anaknya didisiplinkan sang guru. Bagaimana dalam kacamata pidana?

Berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang dikutip dari website MA, Jumat (12/8/2016), guru tidak bisa dipidana saat menjalankan profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Hal itu diputuskan saat mengadili guru dari Majalengka, Jawa Barat, SD Aop Saopudin (31).

Kala itu, Aop mendisiplinkan empat siswanya yang berambut gondrong dengan mencukur rambut siswa tersebut pada Maret 2012. Salah seorang siswa tidak terima dan melabrak Aop dengan memukulnya. Aop juga dicukur balik.

Meski sempat didemo para guru, polisi dan jaksa tetap melimpahkan kasus Aop ke pengadilan. Aop mengenakan pasal berlapis, yaitu:

1. Pasal 77 huruf a UU Perlindungan Anak tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak. Pasal itu berbunyi:

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100 juta.

2. Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak.
3. Pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.

Atas dakwaan itu, Aop dikenakan pasal percobaan oleh PN Majalengka dan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung. Tapi oleh MA, hukuman itu dianulir dan menjatuhkan vonis bebas murni ke Aop. Putusan yang diketok pada 6 Mei 2014 itu diadili oleh ketua majelis hakim Dr Salman Luthan dengan anggota Dr Syarifuddin dan Dr Margono. 

Ketiganya membebaskan Aop karena sebagai guru Aop mempunyai tugas untuk mendisiplinkan siswa yang rambutnya sudah panjang/gondrong untuk menertibkan para siswa. Pertimbangannya adalah:

Apa yang dilakukan terdakwa adalah sudah menjadi tugasnya dan bukan merupakan suatu tindak pidana dan terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana atas perbuatan/tindakannya tersebut karena bertujuan untuk mendidik agar menjadi murid yang baik dan berdisiplin.

Perlindungan terhadap profesi guru sendiri sudah diakui dalam PP Nomor 74 Tahun 2008. Dalam PP itu, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dalam mendidik, mengajar, membimbing hingga mengevaluasi siswa, maka guru diberikan kebebasan akademik untuk melakukan metode-metode yang ada. Selain itu, guru juga tidak hanya berwenang memberikan penghargaan terhadap siswanya, tetapi juga memberikan punishment kepada siswanya tersebut.

"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya," bunyi Pasal 39 ayat 1.

Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. 

"Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing," papar Pasal 40.

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.

"Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain," tegas Pasal 41.

Nah, jika sedikit-sedikit guru diproses hukum dengan UU Perlindungan Anak karena sedang menjalankan profesinya --salah satunya mendidik dan mendisiplinkan siswa--, apa jadinya generasi bangsa Indonesia nantinya?

Buat yang berprofesi Guru Ini Lho *Peraturan Pemerintah yang melindungi Guru* dalam melaksanakan tugas nya adalah *_PP No. 74 tahun 2008_* 

Hal ini perlu diindahkan oleh Murid/Wali Murid, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT) 

Bunyi Pasal/Ayat tentang guru:

1⃣ *Pasal 39 ayat 1*. 
"Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulismaupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya," 

Dalam *ayat 2* disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. 

2⃣ *Pasal 40*. 
"Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing," 

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja. 

3⃣ *Pasal 41*. 
"Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihakpeserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain,"


Demikian berita seputar isi yurisprudensi MA terkait kasuss guru yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat.


sumber: sinarberita.com 
sumber: detik.com

Mengharukan! Guru di NTT Rela Berenang Demi Mengajar, Ini yang Dilakukan Agar Tasnya Tak Basah

Laporan Wartawan 
TribunStyle.com, Fathul Amanah

TRIBUNSTYLE.COM - Pahlawan tanpa tanda jasa, begitulah gelar yang diberikan untuk seorang guru.

Disebut demikian, karena sebesar apapun jasanya pada bangsa khususnya dunia pendidikan, tidak ada gelar ataupun pangkat yang ia terima.

Belum lama ini, akun gosip @lambe_turah baru saja mengunggah sebuah video perjuangan seorang guru di Nusa Tenggara Timur.

Tak hanya mengunggah video, akun ini juga menulis caption panjang yang menceritakan perjuangan guru tersebut dalam mencerdaskan anak bangsa.

"PERJUANGAN PAK GURU. Berenang di lautan.

Sebuah pemandangan yang tentu tidak biasa bagi kita, menyaksikan seorang guru harus berenang di lautan untuk mengajar menemui murid- muridnya.

Tapi.. begitulah adanya.. Dalam sebuah perjalanan laut di Nusa Tenggara Timur, seorang Bapak meminta izin menumpang perahu yang sengaja kami sewa. Tentu saja kami tidak keberatan dan mempersilahkan beliau menumpang.

Hingga perahu kami mendekat ke suatu pantai, sang Bapak mohon diri untuk turun dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan.

Beliau pun berenang ke tepi pantai yang jaraknya masih jauh sambil berusaha mengangkat tasnya ke atas agar tidak basah.

Kami baru menyadari, tidak banyak bahkan sangat jarang di daerah kepulauan ini dimana mayoritas penduduknya adalah nelayan yang memiliki tas seperti yang beliau bawa.

Kami bertanya- tanya.. siapakah beliau? "Bapak itu guru.. pulang mengajar" kata seseorang di sebelahku".

Hidup di pulau terpencil dan jauh dari fasilitas serta sarana yang layak, membuat seorang guru di Nusa Tenggara Timur terpaksa harus berenang di lautan.

Setiap harinya, bapak guru tersebut harus mempertaruhkan nyawanya menghadapi ganasnya ombak dan derasnya arus laut hanya demi bisa sampai ke sekolah tempatnya mengajar.

Ketiadaan biaya dan minimnya sarana transportasi membuatnya harus berjuang mati-matian.

Postingan tentang perjuangan seorang guru inipun sukses membuat para netizen terharu.

Mereka merasa heran dan kagum, bahwa di zaman apa-apa dinilai dengan uang, masih ada seorang guru berhati mulia.

"Kok mau nangis ya liat nya, mana ada guru mulia kayak gini jaman skrg", tulis akun @ledywidjaya.

@u_cha46 : "Ya ampun min...sedih amat liat nya. Mpe nangis gue".

@kimnana_16 : "Ya ALLAH ini yg disebut pahlawan tanpa tanda jasa".

@vivie_hm : "Sediihh banget tuuhh pak presiden ma anak buah nya coba tengokk,,,!!!jgm tengok doang kasih bantuan jg!!!"

@bertaoriyani : "Gaji tak seberapa tp nyawa jd taruhannya, miriiiis tp bangga pastinya krn bs jd pendidik yg sbenarnya ya minceu @lambe_turah ..."

@annisaakusumaa94 : "berlinang air mata..ya allah :'("

@ekzoee : "Nyesekk lihatnya".

@vinaandini : "Padahal duit negata turah turah lah buat bikin sarana pendidikan ... masa smp segitunya yesss... gy mana mau jd bangsa yg berpendidikan dan cerdas klo begini. Miriss sekaliii".

@anc.boutique : "Merinding liatnya hebat sekali pak semangat terus".

sumber: TribunNews 

Siswa SD YPSA Kumpulkan Koin Senilai 13 Juta Rupiah

Written By yuslihanf on Sabtu, 22 Oktober 2016 | 23.37.00

Dilansir dari laman Facebook Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah, siswa-siswi SD YPSA berhasil mengumpulkan koin-koin logam pecahan Rp.100, Rp. 500, dan Rp.1000 hingga mencapai jumlah tiga belas juta rupiah.

Kegiatan pengumpulan uang koin ini merupakan tindaklanjut dari sosialisasi dari Bank Indonesia ke YPSA Kamis 13 Oktober lalu dalam rangka memperingati Hari Uang Republik Indonesia yang ke 70 yang jatuh pada tanggal 30 Oktober mendatang.

Dilansir dari laman resmi Kemenkeu, tema Hari Oeang ke-70 "Kerja Nyata untuk Kemakmuran Rakyat melalui APBN yang Kredibel, Berkelanjutan dan Berkeadilan". Tema ini diluncurkan untuk mendorong semua insan di Indonesia guna kembali mengingat betapa pentingnya keberadaan rupiah dan perjalanannya sampai sekarang ini.


Bank Indonesia memberikan edukasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah dan
kegiatan peduli koin kepada 
Siswa-siswi YPSA , Kamis (13/10/16)

Juara 1 dan 2 Lomba Menyanyi

Mahmud, S.Ag., S.Pd.I. Menerima Hadiah
Juara I dan II Lomba Menyanyi menwakili
siswa/i SD Shafiyyatul Amaliyyah
Dua siswa SD Shafiyyatul Amaliyyah meraih juara 1 dan 2 lomba menyanyi di Medan Club - Jalan RA Kartini, Medan Sumatera Utara. 

Hal ini disampaikan oleh Pak Mahmud, S.Ag., S.Pd.I, selaku Wakil Kepala Sekolah SD Shafiyyatul Amaliyyah. (Sabtu, 22-10-2016).

"Siswa/i yang menjuarai lomba dari SD Shafiyyatul Amaliyyah, Fathin Sabira siswa kelas 6 Primary A sebagai juara 1 .dan  Arisdhia Zufar kelas 5A sebagai Juara 2" jelas Pak Mahmud. 

Kegiatan lomba ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan pelantikan Pengurus Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Provinsi Sumatera Utara yang dilaksanakan pada hari Jumat kemarin. Dan selain kegiatan lomba, juga menyelenggarakan kegiatan bazar dan pameran tambah pak Mahmud.





Mengapa Indonesia Sulit Terapkan Sistem Pendidikan Sesuai UNESCO?

Written By yuslihanf on Rabu, 12 Oktober 2016 | 21.28.00

Indonesia memiliki program yang sesuai dengan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Program itu adalah Sustanaible Development Goals (SDG) yang merupakan rancangan pendidikan yang terdiri dari 15 pencapaian selama 15 tahun.

Salah satu program SDG ini adalah wajib berajar 12 tahun.

“Untuk tamat SMA di Indonesia butuh waktu sampai tahun 2084, SDG ini jadi komitmen bersama bagaimana cara yang bisa mempercepat sampai 2030,” ungkap Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing Kemendikbud Ananto Kusuma Seta di Kantor Kemendikbud Jakarta.

Menurut Ananto sulit mencapai target itu karena terbentur dana pendidikan. Bukan hanya Indonesia, Ananto menyebut cukup banyak negara yang minim untuk mengalokasikan dana pendidikan.

“Kedua urusan perang, anak-anak pengungsian menjadi pekerjaan rumah tersendiri. 58 juta anak terlantar tidak dapat pendidikan, 200 juta anak tidak dapat pendidikan. Ini persoalan yang luar biasa dihadapi global,” paparnya.

Laporan dari UNESCO ini, kata Ananto, menjadi refleksi bagi masing-masing negara untuk memperbaiki dirinya. Tak hanya itu, laporan ini juga akan dijadikan sebagai referensi pendidikan.

“Kedua, report ini akan dijadikan sebagai reference in line dengan national policy (kebijakan nasional) di negara-negara. Diketok palu 2015 ini report pertama. Jadi in line antar national policy (kebijakan nasional) dan global policy (kebijakan global) harus menyatu,” ujar Ananto.

Lebih jauh, ia menjabarkan kalau masalah pendidikan ini bukan hanya urusan satu negara, tapi juga seluruh dunia.

“Dalam rekomendasi perlu hand to hand, kerjasama antarnegara. Indonesia sebaiknya juga sharing dengan negara tetangga. Kita punya tetangga yang maju betul pendidikannya, juga punya negara yang dibawah kita, itu semua kita perlu sharing bersama,” ucap dia.

Ananto menjelaskan angka partisipasi pendidikan tingkat SD dan SMP di Indonesia belum mencapai 100 persen. Itu menunjukkan, sangat sedikit anak yang belum mendapat akses pendidikan.

“Pendidikan menengah sedang ditargetkan 2030 seluruh dunia diharapkan anak-anak sudah lulus SMA. Partisipasi Indonesia yang sekarang itu (SMP dan SMA) baru 76 persen,” terang dia.

“Berarti pekerjaan rumah kita untuk angkat ke lulusan SMP dan SMA. Pak Jokowi bagus punya policy wajib belajar 12 tahun,” sambung dia.

Ananto menyebut tak hanya kebijakan wajib belajar 12 tahun, Jokowi juga sudah berusaha mengatasi masalah dana pendidikan dengan mengeluarkan Kartu Indonesia Pintar.

“Untuk infrastruktur, kita terus bangun Sekolah Garis Depan khususnya di remote area dan guru-gurunya ada yang disiapkan untuk mengajar di daerah 3T (SM3T). Sayangnya, Kemdikbud enggak urusin infrastruktur, tentu kami terus koordinasi,” ucap Ananto.

“Lalu ICT (Information and Communications Technology), koneksi anak-anak kuncinya dengan ICT. Untuk itu kami bertujuan layanan pendidikan ke depannya bisa berbasis ICT,” tandasnya.

Indonesia merupakan negara pertama yang menjadi pilihan UNESCO untuk melaporkan pendidikan global. Ketiga negara lainnya adalah Inggris, Rwanda, dan Kolumbia.

Hadir pula dalam acara ini Mendikbud Muhadjir Effendy, Direktur dan perwakilan UNESCO Jakarta Dr Shahbaz Khan, Analis Kebijakan Senior Laporan GEM Dr Manos Antonius, dan Kepala Biro Pelayanan Komunikasi dan Masyarakat Kemendikbud Asianto Sinambela.

sumber: YPSA Online

Ustadz H. Abdul Latif Khan Berikan Tausyiah di Pengajian Akbar YPSA

Written By yuslihanf on Minggu, 09 Oktober 2016 | 19.20.00

Sekarang yang  paling populer di Indonesia adalah surat  Al-Maidah ayat 51. Kita bersyukur kepada Allah SWT, untung ada Ahok kalau tidak, takkan  teringat kita dengan ayat ini. Allah itu maha dahsyat, dia tidak memilih mukmin untuk mengingatkan kita, tapi dari mulut nonmuslim itu sendiri. Seakan-akan dia mengingatkan kembali akan isi kandungan dari ayat itu kepada kita.

Hal ini diungkapkan Ustadz H. Abdul Latif Khan saat mengisi pengajian akbar YPSA di Raz Garden YPSA, Sabtu (8/10/2016).

“Kalau saya melihat Ahok, saya melihat makar Allah SWT sedang jalan. Ada cara Allah untuk menghancurkan kezaliman dengan cara orang zalim itu sendiri yang mengulitinya.  Kenapa harus dia?, karena tidak ada satupun dari kita yang cukup kuat untuk mengangkat ayat itu kepermukaan. Baru satu ayat, sudah goyang satu Indonesia, bahkan ke seluruh dunia”.  Tutur Latif Khan.

Abdul Latif Khan kembali menerangkan bahwa negara yang paling Islami itu bukan berasal dari negara yang mayoritas Muslim. Dari penelitian profesor dan guru besar di George Washington University, mereka meneliti dengan Al-Qur’an dan Hadits kemudian mereka racik dan membuat indikator-indikator atau menyatukan 208 negara di dunia.

“Saudia Arabia berada diposisi 50, Mesir diurutan jauh sekali 148, Timur Tengah  40-100 an, Indonesia sendiri berada diurutan 104. Malaysia  diurutan 33, dan urutan antara 32 sampai pertama itu di pegang oleh negara yang minoritas Islam. Dan urutan 1 itu adalah New Zealand. Dilanjutkan Denmark, Belanda, Singapura, dan Amerika berada diurutan 15”, jelas Abdul Latif Khan.

Ketika Rasulullah dikepung oleh kamu kafir Quraish dan tersudut disebuah gua, bersama Abu Bakar bersembunyi. Abu Bakar ketakutan dan Rasulullah menjawab “La Tahzan”, jangan bersedih  dan galau karena Allah SWT bersama kita. Akhirnya Allah SWT memberikan pertolongan dan menyelamatkannya dari kepungan itu. Artinya kemanapun berada jangan takut dan berusaha untuk melewatinya, selebihnya serahkan pada Allah SWT.

“Apa yang terjadi dengan orang Madinah, ketika mereka kedatangan kaum Muhajjirin yang datang dari Mekkah. Ternyata mereka menyambut dengan senyuman dan keimanan. Mereka memberikan fasilitas dan keinginan kepada kaum pendatang ini. Allah SWT sedang padukan kaum Muhajjirin ini dengan kaum Anshor dan membentuk sebuah peradaban yang luar biasa”.

Azhar Fauzi, M.Pd.I., selaku ketua panitia pengajian akbar mengatakan, “Pengajian akbar kali ini bertemakan ‘Dengan semangat Muharram 1438 H dan Milad Masjid Shafiyyatul Amaliyyah Kita Bangun Karakter Melalui Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW’, dan pengajian ini akan terus dilaksanakan setiap bulan dan bulan depan akan mendatangkan ustadz dari ibukota Jakarta”.

“Bapak dan Ibu yang tidak sempat hadir, Pengajian Akbar YPSA dapat disaksikan secara langsung (LIVE STREAMING) melalui saluran Youtube di gadget”. Tambah Fauzi.

Tampak hadir ratusan jamaah pengajian akbar ini antara lain Pembina YPSA Drs. H. Sofyan Raz, Ak.M.M, Ketua Umum YPSA Hj. Rahmawaty, Sekretaris Umum YPSA Hj. Rizki Fadilah Raz, M.Psi.Psikolog., Mayor Edison mewakili dari Pangkosek III Medan, Mayor Budi Oktavian mewakili Kodim 0201/BS, Kolonel Yos Rizal mewakili Kodam I/BB, Letkol Marmaslan mewakili Lantamal  I, Mayor Firdaus mewakili Danlanud Soewondo, masyarakat umum, siswa,  SDM, dan orangtua siswa YPSA.

sumber: YPSA Online

Sudah Era MEA, Bekali Anak Biar Tak Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri!

Written By yuslihanf on Jumat, 07 Oktober 2016 | 22.41.00

Terbayangkah menumpang taksi dari Jl MH Thamrin ke Blok M disopiri oleh lelaki asal Filipina? Atau, pernahkah terpikir akan makan gudeg hasil racikan koki asal Vietnam? Jangan-jangan pula, guru, dosen, dan beragam pekerjaan yang butuh keahlian juga begitu?

Jangan salah, bayangan-bayangan itu bisa benar-benar jadi kenyataan. Semua berawal dari berlakunya kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak 2015.

Kesepakatan tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Nah, salah satu yang harus diantisipasi adalah kesiapan tenaga kerja seperti ilustrasi di atas. Kenapa?

Kesepakatan MEA mencakup banyak hal. Di antaranya adalah membuka peluang bagi tenaga kerja untuk bekerja di negara lain sesama anggota ASEAN tanpa persyaratan rumit.

Bila tenaga kerja dalam negeri tak mampu bersaing, tinggal tunggu waktu pekerja asing mendominasi beragam pekerjaan di dalam negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, mencatat sudah ada kenaikan pekerja asing—sekalipun paruh waktu—yang masuk ke Indonesia, dari 14.550 pekerja pada akhir 2015 menjadi 25.238 orang pada Januari 2016.

Kesepakatan sudah berjalan, apa langkah yang harus dilakukan untuk menyikapi tren tersebut?

Seperti dikutip dari situs web presidenri.go.id, Presiden Joko Widodom enegaskan 2016 merupakan tahun percepatan pembangunan. Percepatan ini termasuk untuk menyikapi tantangan global dan MEA sebagai salah satunya.

Pemerintah, kata Presiden, menyiapkan tiga langkah terobosan terkait percepatan pembangunan itu.

“Pertama, percepatan pembangunan infrastruktur. Kedua, penyiapan kapasitas produktif dan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketiga, deregulasi dan debirokratisasi,” ungkap Presiden seperti dikutip situs web tersebut.

Thinkstock/Jetta ProductionsIlustrasi pelajar dan sumber daya manusia
Pembangunan kapasitas SDM, lanjut Presiden, adalah syarat mutlak untuk bisa berhadapan dengan kompetisi global. Jangan sampai, ujar dia, SDM Indonesia malah hanya jadi penonton dalam perlombaan ekonomi global, di negeri sendiri pula.

“Indonesia harus ikut berlomba dan harus menjadi pemenangnya,” tegas Presiden.

Peluang

Bicara SDM, kapasitas yang harus disiapkan tak hanya pengetahuan ilmiah dan teoritis (hard skill) tetapi juga kecerdasan dan kepekaan sosial(soft skill). Pintar-pintar memilih lembaga pendidikan, bisa jadi cara menyiapkan generasi penerus bangsa.

Indikator yang bisa dipakai untuk menakar bobot suatu lembaga pendidikan antara lain adalah sistem pengajaran yang dipakai.

Sampoerna Academy, misalnya, menerapkan sistem pendidikan Amerika berbasis STEAM . Sistem ini disebut dapat mendorong kapasitas dan kompetisi anak didik di institusinya.

STEAM merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, Arts, and Maths. Mengadopsi metode pembelajaran ini, pendidikannya menekankan pengembangan pola pikir yang tak hanya fokus pada satu bidang.

“Dengan mengenalkan STEAM sejak dini, siswa akan terlatih melakukan analisis secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan,” ungkap Jefri Saputra, guru matematika di Sampoerna Academy, saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (27/9/2016).

Selain itu, lanjut Jefri, siswa juga diajak melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima, serta bersikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

Siswa, papar Jefri, diberi kesempatan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Metode tersebut mendorong pula para siswa terbiasa bekerja sama—baik dengan sesama siswa maupun guru—dalam menyelesaikan tantangan.

Penerapannya, siswa dilatih melakukan eksperimen, alias Project Based Learning (PBL). Memakai pola ini, para siswa dapat mempraktikkan ilmu dan keterampilannya secara kreatif dalam sebuah riset kolaboratif. Guru, kata Jefri, lebih berperan sebagai pendamping, dengan siswa menjadi pusat pembelajaran.

STEAM pada akhirnya diharapkan mendorong minat dan kecintaan siswa terhadap sains dan teknologi, sejak dari masa pra-Taman Kanak-kanak (TK). Ini karena media pembelajaran banyak juga menggunakangame dan gadget.

Siswa diarahkan untuk tidak memanfaatkan keduanya sebagai permainan saja—sebagaimana yang sering dikhawatirkan orangtua—tetapi juga menjadikannya pendukung yang efektif dalam proses pembelajaran.

Sesuai jenjang pendidikan

Sampoerna Academy menerapkan STEAM untuk para siswa sejak tingkat pra-TK. Penerapannya tentu saja menyesuaikan usia dan pemahaman siswa.

KOMPAS.com/CAHYU CANTIKA AMIRATIAnak pra-TK menyusun lego duplo sebagai media pembelajaran.
Untuk siswa pra-TK, salah satu perkenalan siswa terhadap STEAM diaplikasikan lewat permainan lego Duplo. Ini adalah permainan balok susun tematis.

Tema seperti kebun binatang atau kantor pemadam kebakaran mengajak anak bermain sembari tanpa terasa belajar.

Pada tahap ini, fokus pendidikan adalah mengasah keterampilan dan pemahaman konsep. Di sini siswa belajar mengenal beragam kosa kata, konsep berhitung, warna, angka, dan bentuk.

Pengenalan warna, misalnya, dilakukan dengan mengajak anak mencampur beragam warna untuk mendapatkan satu warna tertentu.

Proyek yang lebih “serius” di jenjang pra-TK adalah memastikan tanaman tak mati saat ditinggal berlibur. Selama dua pekan para siswa diajak bereksperimen sampai bisa membuat vertical hydro garden, dengan sistem pengairan otomatis.

Beda lagi untuk para siswa Sekolah Dasar (SD). Teknologi makin kental dipakai di jenjang ini. Di sini siswa diajak memanfaatkan gadget dengan benar, tak hanya untuk bermain game online.

Pemanfaatan gadget untuk para siswa SD antara lain untuk pelafalan kata dalam bahasa Inggris. Siswa diajak mendengar langsung caranative speaker melafalkan suatu kata dari rekaman di gadget.

Rekaman tersebut menyertakan pula gambar dan informasi yang lebih mudah diserap anak-anak.

Untuk tujuan tersebut, sekolah menyediakan juga tablet berisi e-bookuntuk pengerjaan tugas kelompok. Siswa diizinkan mengakses informasionline selama penggarapan tugas itu.

Tak asal-asalan, pengajar di sekolah yang memakai sistem ini sudah harus memiliki sertifikasi intenasional—misalnya dari Apple atau Google—untuk mengajar menggunakan aplikasi gadget. Karenanya, orangtua tak perlu lagi khawatir soal penggunaan teknologi dalam proses belajar anak.

Begitu masuk sekolah menengah, siswa mulai diajak melakukan analisis yang lebih menyeluruh. Di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), misalnya, mereka sudah ditantang membuat penelitian atau percobaan sesuai kreativitas masing-masing.

Tujuannya adalah merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas siswa. Contohnya, siswa kelas VII membuat jembatan dari stik es krim. Beda lagi, siswa kelas VIII membuat bluetooth speaker memakai stik es krim sebagai kemasannya.

Bermodal stik es krim, siswa tanpa terasa mengasah penalaran—matematika dan teknologi—untuk mengukur keseimbangan dan proporsi benda, sekaligus kemampuan seni untuk bentuk-bentuk yang dihasilkan.

Sesudah itu pun, para siswa diminta membuat presentasi untuk karya-karyanya itu.

“Keberanian dan kemampuan berbicara di depan publik mulai diasah di sini,” kata Jefri.

Tak cukup, para siswa juga didorong mengikuti kompetisi. Dari ajang-ajang tersebut, mental siswa dilatih tangguh. Menang atau kalah ditekankan bukan menjadi tujuan utama, karena strategi dan usaha yang dilakukan adalah yang lebih penting sebagai pelajaran.

Dok Sampoerna AcademySiswa Sampoerna Academy yang memenangkan kompetisi setelah menciptakan games petualangan
Naik tingkat lagi ke bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), “tantangan” bagi para siswa juga meningkat. Di jenjang ini, mereka ditantang membuat inovasi untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan mengacu pada prinsip STEAM.

Proyek mereka harus punya dampak sosial. Misalnya, siswa diajak membuat kincir angin portabel dan tempat sampah yang memilih sensor pemilah.

Naik jenjang lagi, penerapannya pun akan lebih berkembang. Salah satu kampus yang juga sudah mengadopsi metode pembelajaran STEAM adalah Sampoerna University.

Melalui penerapan metode pembelajaran STEAM sejak dini, diharapkan di masa depan akan ada lebih banyak SDM yang berkualitas tinggi serta mampu bersaing di tingkat global.

Bila tertarik lebih jauh mengenal STEAM, Anda bisa menyambangi “Sampoerna Academy dan Sampoerna University Education Expo” yang berlangsung pada 26 September 2016 hingga 2 Oktober 2016 di Main Atrium Mall Gandaria City, Jakarta Selatan. Atau, kunjungi link ini.

sumber: YPSA Online

Pengajian Akbar YPSA Hadirkan H. Abdul Latif Khan Menjadi Penceramah

YPSA kembali menggelar pengajian akbar dengan ustadz penceramah H. Abdul Latif Khan yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu 8 Oktober 2016 pukul 13.00 WIB di Raz Garden Yayasan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah (YPSA).
Menurut Ketua Panitia Azhar Fauzi, M.Pd.I., pengajian kali ini mengambil tema “Dengan semangat Muharram 1438 H & Milad Masjid Shafiyyatul Amaliyyah Kita Bangun Karakter Melalui Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW, YPSA menggelar pengajian ini rutin setiap bulan dan terbuka untuk umum, siapa saja boleh mengikuti pengajian ini”
“Sebelumnya kita telah mengundang Ustadz H. Heriansyah dan kali ini kita datangkan ustadz H. Abdul Latif Khan, yang diharapkan mampu memberikan pencerahan dan penguatan kepada umat dan menyampaikan makna hijrah secara harfiah”. Jelas Fauzi.
“Selain itu diharapkan jamaah yang menghadiri pengajian maupun umat Islam secara umum dapat mengambil iktibar dan nilai-nilai dari kisah hijrah Rasulullah SAW” tutur pengurus Masjid Shafiyyatul Amaliyyah ini.
Terpisah dengan Kepala Bagian Pendidikan dan IT, bapak Bagoes Maulana, M.Kom., menambahkan, sebagaimana dalam kegiatan-kegiatan sebelumnya, Bagian Pendidikan dan IT YPSA memberikan layanan publikasi secara langsung / online yaitu dengan live streamming yang dapat diakses oleh masyarakat umum di situs youtube.com dengan harapan para orangtua siswa yang tidak dapat hadir dapat menyaksikan langsung secara live di situs youtube dengan alamat www.youtube.com/official.theYPSA.
Sumber: YPSA Online

 
Support : Creating Website | Mas Template | Template
Copyright © 2011. SD Shafiyyatul Amaliyyah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger